Bola tenis, pasir dan kopi


Disebuah kelas, ada seorang profesor dan muridnya.
Profesor itu membawa sebuah toples ukuran sedang, beberapa bola tenis, pasir. dan kopi. Disini, akan dijelaskan sebuah perumpamaan dalam kehidupan.

"murid-muridku, disini ada sebuah toples kosong, akan saya masukan bola tenis. satu, dua, dan tiga. masih bisa lagi tidak? "

"tidak prof" jawab murid

"nah, didalam toples yang berisi 3 bola tenis terdapat celah-celah, apakah itu masih bisa diisi lagi oleh bola?"

"tidak bisa"

"oke. kemudian disini, saya punya pasir. bisakah saya memasukan pasir-pasir ini kedalam toples? apakah muat? " tanya si profesor lagi

"tentu bisa prof"

"pintar, dicelah toples ini kita bisa mengisinya dengan pasir. Dan apakah setelah ini saya akan memasukan kopi kedalam toplesnya. Murid-murid apa yang terjadi?"

"kopinya akan bercampur dengan semuanya.. "jawab murid

"murid-muridku, bagaimana bila kita coba memasukan pasirnya terlebih dahulu, kemudian bola tenis, lalu kopinya. apakah bola itu akan tetap bisa masuk? "

"tidak prof, karena jika pasirnya terlebih dahulu akan penuh dan bola tenisnya tidak akan bisa masuk"


Nah, dari perumpamaan toples dari si profesor tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan ; Toples adalah sebagai sebuah kehidupan. Pertama, dimasukkan bola tenis, benda paling besar di toples tersebut. Bola itu dimisalkan adalah keluarga, teman, sahabat, atau orang terdekat kita yang benar benar sangat penting untuk kita, mereka yang selalu memberi kebahagiaan pada kita, yang mengisi hidup kita dan lain sebagainya, tanpa mereka kita tidak bisa apa-apa. Kemudian setelah bola dimasukkan, masih ada celah yang tersisa diantara bola-bola itu. Pasir dalam urutan kedua setelah bola. Pasir yang bisa menyusup, atau masuk diantara celah-celah itu, sebagai harta, kekayaan, jabatan atau benda sekunder dalam kehidupan. Bagaimana jika pasir yang dimasukkan pertama? pasti sudah penuh terlebih dahulu toplesnya, lalu bola tennis itu tidak dapat dimasukkan, seperti halnya jika meraih kekayaan, jabatan, dan lain sebagainya itu yang pertama dalam hidup, kita sudah terlena terlebih dahulu akan hal itu, tentu keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat secara otomatis terlupakan, dan bukan menjadi prioritas yang utama, bahkan menjadi hal yang tidak penting. Yang terakhir, kopi. Kopi itu nikmat, ya..setelah elemen-elemen tersebut diatas yang ada di kehidupan, tentu hambar jika tidak ada suatu "pemanisnya". Jadi, pintar-pintarlah memprioritaskan hal yang utama dalam hidup anda, jangan sia-siakan orang disekitar anda, karena anda tidak akan mendapatkannya dua kali,dan jika hilang anda tidak bisa mendapatkan yang serupa,tetapi harta, jabatan sifatnya tidak akan kekal dan bisa didapat sewaktu-waktu.

Misalnya saja Anda memberikan kadar prioritas yang lebih besar terhadap pekerjaan, melebihi kadar prioritas terhadap kesehatan, keimanan, keluarga, hubungan sosial, dan lain sebagainya. Mungkin kehidupan keluarga, hubungan sosial, spiritual, dan kesehatan akan menjadi korbannya. Atau mungkin jika Anda kurang memprioritas diri pada kondisi keuangan, maka kondisi prospek usaha Anda juga akan mengalami degradasi.

Bila memang kita benar-benar harus memilih mana yang harus diprioritaskan, maka sebaiknya prioritaskan pada kondisi spiritual dan kesehatan diri sendiri terlebih dahulu. Bila kondisi kesehatan dan keimanan kita prima, barulah kita dapat mengerjakan prioritas yang lain. Karena dengan kondisi kesehatan dan keimanan yang memadai akan menunjang upaya kita dalam menangani prioritas-prioritas yang lain dengan lebih baik.

Langkah selanjutnya adalah menuliskan prioritas yang akan kita kerjakan setiap hari. Sebagaimana sebuah pepatah bijak menjelaskan, "An unfailing success plan: At each day's end, write down the six most important things to do tomorrow; number them in order of importance, and then do them. - Perencanaan Pencapaian Kesuksesan: Setiap malam, tuliskan sedikitnya 6 hal penting untuk dikerjakan besok; urutkan berdasarkan seberapa penting mereka, dan laksanakan semua rencana itu."

0 comments:

Post a Comment

 
My Life My World Blog Design by Ipietoon